Season Recap

The Umbrella Academy: Keluarga Super Dengan Misteri Berlapis

Komitmen Netflix kepada serial superhero sempat dipertanyakan ketika mereka menghabisi Daredevil, Iron Fist, Luke Cage, dan Jessica Jones. Memang bukan salah Netflix sepenuhnya. Keputusan ini disebut-sebut karena Disney sedang menggodog layanan streaming milik mereka sendiri, Disney+.

Dunia superhero bukan cuma milik Marvel saja, masih ada banyak source lain untuk diadaptasi. Langkah terbaru Netflix untuk menggarap “The Umbrella Academy” menjadi penebusan dosa yang pantas bagi raksasa streaming tersebut.

Akademi Payung? Kok namanya aneh…
Lebih baik jangan di-Bahasa Indonesia-kan. The Umbrella Academy adalah komik pemenang Eisner Award 2008 yang lahir dari tangan Gerard Way. Hmm… mirip nama vokalis band rock My Chemical Romance,  ya? Memang betul! Multi-talenta sekali deh pokoknya.

Seri komik The Umbrella Academy terdiri dari 6 buku, kemudian sekuelnya “Dallas” juga sepanjang 6 buku, dan paling baru “Hotel Oblivion” dirilis sepanjang 7 buku. Semuanya dipublikasikan oleh Dark Horse Comics. Nah, serial Netflix-nya mengambil jalan cerita seri pertama dari komik.

Premis Utama (Non Spoiler)
Tanggal 1 oktober 1989, tiba-tiba puluhan wanita di seluruh penjuru dunia melahirkan tanpa mengalami proses kehamilan sebelumnya. Bilyuner Sir Reginald Hargreeves (Colm Feore) buru-buru mengadopsi sebanyak mungkin anak-anak tersebut dan tidak lupa memberi uang pesangon bagi orang tua dengan jumlah yang sangat besar. Reginald kemudian merawat dan membesarkan anak-anak itu untuk menjadi sebuah tim superhero, karena ternyata, semua anak punya kekuatan super. Begitulah The Umbrella Academy terbentuk. Sepintas konsepnya mirip X-Men.

Kalau kalian menganggap Reginald adalah bapak tiri yang baik, mengayomi, perhatian… wah, anak-anak The Umbrella Academy akan buru-buru menyanggahnya. Ketujuh anak yang diadopsi diperlakukan seperti sebuah objek ketimbang subjek. Mereka dinamai dengan nomor; Number 1 sampai Number 7. Nggak heran kalau anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang disfungsional.

together
The Umbrella Academy

Sekarang anak-anak itu sudah tumbuh dewasa dan menjalani hidup masing-masing. Mereka nggak suka berinteraksi satu sama lain, bukan hanya karena kepribadian yang berbeda jauh, tapi juga karena kebersamaan selalu mengingatkan tentang masa lalu mereka. Satu-satunya hal yang mereka setujui adalah: kebencian terhadap sang ayah yang kini sudah tiada.

Serial ini memiliki style yang khas, visual efek nan keren, dan brutal. Satu hal lagi yang bakal disukai penonton adalah pemilihan musiknya. Oldies banget! Katalog musik-nya benar-benar brilian. Beberapa diantaranya ada “Don’t Stop Me Now” dari Queen, “Run Boy Run” dari Woodkid, dan “I Think We’re Alone Now” dari Tiffany. Lagu terakhir yang saya sebut sangat melekat, pasalnya menjadi backsound music untuk salah satu adegan paling menghibur di episode pertama.

-Berhenti membaca sampai disini kalau belum menonton The Umbrella Academy-

Misteri Berlapis-lapis (SPOILER ALERT)
Siapa saja sih anak-anak ajaib yang kita bicarakan dari tadi?

Number One aka Luther. Bertubuh besar, super kuat. Taat kepada Reginald. Dilempar ke bulan selama bertahun-tahun sendirian untuk sebuah “misi”.

Number Two aka Diego. Punya tingkat akurasi di atas manusia normal. Senjata utamanya adalah pisau. Ia bekerja sebagai pembela kebenaran di jalur yang salah (Halo, Daredevil!)

Number Three aka Alison. Selebriti terkenal yang bisa mengontrol pikiran orang. Secara misterius nggak mau menggunakan kekuatannya lagi. Punya keluarga yang diambang kehancuran. Karena kekuatannya, ia dijauhi oleh anggota Academy yang lain

Number Four aka Klaus. Seorang pecandu narkoba yang bisa berkomunikasi dengan arwah. Sepanjang serial berjalan dia agak useless, well, buat apa superhero bisa bicara sama arwah? Mending jadi dukun aja.

Number Five aka… Five. Memiliki kekuatan teleportasi. Menghilang sejak masih anak-anak.

Number Six aka Ben. Meninggal secara misterius. Kekuatannya ia bisa mengeluarkan monster bertentakel panjang dari perutnya.

Number Seven aka Vanya. Musisi yang handal memegang violin. Nggak punya kekuatan sama sekali, sehingga ia disingkirkan dari keluarga. Ia amat normal sampai titik tertentu nanti.

trioumbrella

Kematian Reginald menjadi titik balik semuanya. Sebagai anggota keluarga, ketujuh member The Umbrella Academy kembali berkumpul walaupun secara terpaksa. Di saat yang nyaris bersamaan, Five kembali setelah sekian lama menghilang. Dari Five, mereka mengetahui fakta jika kiamat akan terjadi dalam hitungan hari dan satu-satunya yang bisa menghentikan peristiwa itu adalah The Umbrella Academy.

Tak serta merta fakta itu membuat mereka akur. Ada momen-momen ketika penonton pengen rasanya melempar botol ke layar TV ketika para karakter “kumat” dengan kebiasaan lamanya dan tidak bisa keluar dari ego pribadi. Namun ada juga momen menyentuh seperti saat Allison dan Vanya berusaha untuk menjalin sisterhood yang baik meskipun terbentur tembok tinggi. Berhasil? Gagal total.

Masing-masing memiliki trauma masa kecil yang terbawa hingga dewasa. Karakter anak-anak memang sekarang lebih dewasa tapi tidak lebih bijaksana. Luka batin yang terpupuk sejak kecil menjelma menjadi iblis yang menghantui masing-masing pribadi.

Contohnya Luther, anak emas Reginald. Badannya yang besar hingga menyerupai gorila ternyata membuat sang ayah tidak kuat melihatnya sehingga mengirim Luther ke bulan. Luther baru mengetahui jika sang ayah sebenarnya tidak peduli dengan misi tersebut dari pengakuan asisten Reginald, Pogo (simpanse hasil rekayasa genetis).  Allison pun demikian. Meski sudah berkeluarga dan punya kekuatan mengontrol orang, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat pernikahannya diambang kehancuran. Diego, meskipun menjadi karakter yang paling normal sebagai manusia, ternyata punya hubungan kompleks dengan sang ibu. Seumur hidupnya ia juga memusuhi Luther karena menjadi Number Two.

Begitu juga dengan tokoh lain yang memiliki rahasia kelam masing-masing. Semuanya dikupas secara perlahan dan surprisingly tetap berkolerasi dengan tema utama serial ini.

Five jelas menjadi katalis dalam menyatukan kembali The Umbrella Academy. Time traveler “amatiran” yang terjebak di masa depan. Ketika kembali ke masa sekarang, ia sebenarnya sudah tua, namun terjebak dalam tubuh laki-laki remaja. Karakter Five juga digambarkan agak sakit jiwa. Ia jatuh cinta dengan sebuah manekin. Ia sebenarnya senang berhasil kembali ke masa sekarang, namun merasa dirinya sangat penting utnuk menghentikan kiamat. Five membutuhkan saudara-saudaranya, tapi terkesan tidak peduli juga. Nah lho, kompleks kan?

Five diburu oleh The Commission—organisasi yang tugasnya memastikan semua hal terjadi secara semestinya. Mereka punya agen-agen yang siap untuk mengarungi ruang dan waktu dan membunuh siapa saja yang berusaha untuk mengubah takdir.

Hazel dan Cha-cha adalah dua agen The Commission yang memberi warna lain pada serial ini. Meski kisah Hazel dengan nenek tua penjaga toko donat cukup manis aneh, kita bisa jatuh hati dengan penampilan agen ini ketika serial berakhir. Simpelnya, Hazel dan Cha-cha jadi pasangan yang menyenangkan untuk ditonton, interaksinya kadang memancing tawa penonton.

seven

Dan finally, kita mengikuti Vanya yang menjadi bayang-bayang samar di keluarga Hargreeves. Antara ada dan tiada gitu deh. Ke-normal-an Vanya yang terlalu normal ini sebenarnya sudah bisa ditebak sedari awal bakal menjadi pembeda di akhir nanti. Meski begitu, penonton berhasil digiring untuk beropini jika penyebab kiamat nanti ialah Leonard—seorang pria yang ngotot membantu Vanya untuk men-discover kekuatannya dengan agenda tertentu.

CONCLUSION
The Umbrella Academy merupakan sebuah adaptasi yang sukses menambal lubang yang ditinggalkan Marvel series. Interaksi antar saudara dan rahasia masing-masing justru lebih seru disimak ketimbang permasalahan apocalypse sebagai inti penceritaan. Penonton bakal asyik tenggelam dalam misteri, rivalitas, dan koneksi masing-masing karakter baik internal maupun eksternal dari Academy itu sendiri.

Mungkin untuk beberapa orang, plot yang disajikan terlampau padat, terutama masalah Five, the Commission. Belum lagi misteri yang masih terbuka lebar. Kenapa Luther dikirim ke bulan? Apa penyebab kematian Ben? Siapa Reginald sebenarnya? Apakah kiamat benar-benar terjadi setelah bulan diledakkan Vanya?

Bagi saya, penampilan terbaik jelas milik Five, Vanya, dan (my favourite) Klaus. Dari awal Klaus ini kayak underdog. Kekuatannya keliatan useless tapi di akhir episode ke-10 benar-benar powerful. Reginald pun sadar akan hal itu dan mengatakan kalau Klaus itu belum menggali kekuatannya, bahkan di permukaannya pun belum.

Pertanyaan terakhir cukup menarik untuk dijawab. Bila kalian riset komiknya, Reginald Hargreeves aka The Monocle ternyata adalah alien yang menyamar dalam bentuk manusia! Wow. Ia memenangkan hadiah Nobel karena berhasil merekayasa otak simpanse. Reginald juga penemu beberapa alat (kelewat) canggih seperti the Televator, the Levitator, Mobile Umbrella Communicator, dan Clever Crisp Cereal.

Secara visual, serial ini sangat memanjakan dengan koreografi dan efek slo-mo di beberapa bagian, split-screen, dan efek komikal lain. Meski tone cenderung gelap, namun The Umbrella Academy sangat asyik untuk diikuti. Nggak berat kok.

Sayangnya ending dirasa kurang komplit bahkan condong menggantung. Ini bukan serial yang sekali season habis dan berlanjut ke story lain di musim berikutnya. Jadi, semoga saja Netflix nggak buru-buru meng-cancelled serial ini. Kabar baik, Netflix mengkonfirmasi kalau bakal dibuat season 2-nya kok dan memang layak untuk season-season yang lebih banyak lagi.

OVERALL SCORE: 8.5

Tinggalkan Balasan