Season Recap

LIMITLESS Season 1: Serial Sci-Fi Debutan Yang Wajib Ditonton

Diangkat dari novel The Dark Fields karya Alan Glynn, Limitless awalnya adalah judul film sci-fi yang dirilis tahun 2011 silam. Dibintangi oleh Bradley Cooper, Limitless memiliki premis unik: sebuah obat berkode NZT dapat memaksimalkan 100% otak manusia. Bisa dibayangkan apa yang bisa dilakukan manusia dengan otak yang super cerdas. Empat tahun berselang, CBS ‘menghidupkan’ kembali Limitless dalam format serial ber-genre sci-fi procedural drama. Menggabungkan unsur sci-fi, humor nan kental, dan pengembangan karakter yang kuat, Limitless jelas tak boleh dilewatkan para penikmat serial televisi.

Dibandingkan harus merombak dan memulai dari awal (reboot), tim penulis Limitless dengan cerdas memutuskan untuk melanjutkan cerita versi film namun masih dengan nuansa reboot. Maka dari itu, serial ini dengan leluasa bisa menghadirkan bintang utama dari versi film, sekaligus mengexplore cerita baru dengan karakter yang baru pula. Bingung? Silahkan lanjutkan membaca tentang…

Cerita Singkatnya

Brian Finch (Jake McDorman) adalah musisi gagal berumur 28 tahun. Di tengah perjuangan dalam mencari jati diri, ia diperkenalkan dengan “smart pill” bernama NZT oleh salah satu temannya. NZT memungkinkan Brian untuk mengakses setiap neuron dari otaknya, sehingga ia bisa mengingat setiap detail dari seluruh kejadian yang pernah ia alami, bahkan untuk hal paling remeh sekalipun. Intuisi dan cara pikirnya pun meningkat drastis. Intinya, Brian adalah orang terpintar di dunia selama masih terpengaruh dalam obat itu yang mana bertahan selama 12 jam.

nzt

Namun perkenalannya dengan NZT tak berjalan mulus. Ia terlibat dengan kasus pembunuhan dan membuat Brian harus menjadi buronan FBI. Di saat-saat genting, ia juga merasakan efek negatif dari NZT. Ia baru tahu jika NZT adalah pil yang berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian. Maka dari itu, tak ada yang bertahan setelah mengkonsumsi NZT. Disitulah muncul Eddie Morra, sang senator misterius yang menjanjikan Brian dengan immunity shot sehingga Brian bisa menggunakan NZT sebanyak yang ia mau tanpa efek samping. Sebagai gantinya, Brian harus menjadi “mata dan telinga” Morra di FBI.

Dianggap sebagai aset, ia kemudian diangkat menjadi konsultan FBI dan membantu agen Rebecca Harris (Jennifer Carpenter) dalam menghadapi kasus rumit. Problemnya, ia menjadi terikat secara emosional dengan pekerjaan dan orang-orang di FBI, namun ia harus ingat jika Morra menginginkan sesuatu dari dirinya terkait FBI. Hidup Brian semakin rumit karena peran double agent yang dimainkannya. Meski berniat memberontak, tak jarang Morra mengancam Brian melalui tangan kanannya, Jarrod Sands (Colin Salmon).

cooper

Oh iya, Morra (Bradley Cooper) adalah pemeran utama dari Limitless versi film. Hampir sama dengan nasib Brian, Eddie Morra adalah seorang penulis yang gagal, sehingga mempengaruhi setiap sendi kehidupan pribadinya, termasuk untuk urusan asmara. NZT kemudian mengubah gaya hidup dan membuatnya berhasil. Long story short, kini ia menjadi senator yang berniat maju dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

Gaya unik Film Di Bawa ke Versi Serial

Kalau kalian sempat menonton film Limitless, tentu setuju jika film tersebut memiliki style yang unik seperti monolog karakter utama dan berbagai efek grafis nan menarik. Yang paling unik adalah skema cool/warm, yang berhubungan dengan tampilan keseluruhan. Tampilan layar akan berubah menjadi ‘lebih hidup’ ketika sang karakter terpengaruh NZT, dan sebaliknya, bila sang karakter sedang off-NZT maka gambar di layar akan berubah pucat.

Kabar baiknya, semua hal baik dari versi film bisa diboyong dengan sempurna oleh versi serial. Tentu hal ini menjadi nilai plus, karena kita disuguhi beragam visual yang colorful dan menghibur di setiap episodenya. Dengan berbagai macam grafis yang digunakan, penonton seakan bisa ikut merasakan proses kreatif yang ada di kepala Brian.

Jake McDorman, Pemilihan Karakter yang Tepat oleh Bradley Cooper

Tentu saja yang jadi sentral perhatian adalah Brian Finch yang diperankan oleh Jake McDorman. Sang aktor menjadi elemen paling esensial dalam serial ini. Karakternya likable, karismatik, dan lucu. Untuk saya, dialah yang membuat serial Limitless berhasil. Ia juga dengan mudah membangun chemistry dengan setiap pemeran yang muncul dalam serial ini, terutama dengan Jennifer Carpenter sebagai Rebecca Harris. Keduanya membangun hubungan non-romantis yang membawa aura positif sepanjang season berlangsung.

itung

Jake McDorman sendiri pernah bekerja sama dengan Bradley Cooper dalam film American Sniper. Cooper sendiri yang meminta McDorman untuk membintangi serial Limitless, sehingga terasa sekali chemistry antara mereka berdua setiap kali mereka bertemu on-screen. Betul, salah satu bagian paling menarik untuk penonton adalah ketika Brian dapat bertemu face-to-face dengan Morra, meski amat disayangkan Morra/Cooper tak selalu muncul di setiap episodenya.

Another Procedural Drama…with style

Meski mengusung tema sci-fi dengan plot utama yang panjang, Limitless tak bisa lepas dari unsur prosedural drama, di mana setiap episodenya Brian dan kawan-kawan harus memecahkan case of the week. Untuk membuat Limitless berbeda dari tayangan sejenis, tim penulis selalu menghadirkan kasus dengan fantasi tingkat tinggi. Lihat saja ketika Brian memecahkan kasus yang ada hubungannya dengan kode genetik Genghis Khan, atau ketika ia mengungkap kasus tentang tangan robotik yang diretas oleh orang tidak bertanggung jawab. Jangan lupa pula ada salah satu episode yang kental dengan nuansa Asia Tenggara, seperti Malaysia dan tentu saja… Indonesia! Ada satu momen ketika Brian mengobrol dengan seorang anak di Surabaya, menggunakan bahasa Indonesia pula.

tes

Memang, tidak semua kasus yang dihadirkan revolusioner. Ada beberapa episode yang mengusung kasus klise, sehingga terkesan underwhelming. Kebanyakan penyelesaian kasusnya juga kurang memuaskan, sehingga meninggalkan lubang yang mengganggu. Meski demikian, sepanjang season ini kasus yang disajikan Limitless cukup berbeda dengan tayangan yang lain.

Berhenti disini jika tak ingin terkena spoiler. Tulisan di bawah mengandung alur cerita season 1

Kelemahan Utama: Karakter serta Plot Utama Yang ‘Hit And Miss’

Semua terasa begitu sempurna bagi Limitless, paling tidak hingga episode ke-17. Sepanjang itu pula, penonton diberi kesan jika Morra-lah villain utama dari Brian. Pastinya semua berharap episode finale akan menjadi panggung akbar perselisihan Brian vs. Morra. Namun semuanya berubah ketika Limitless menggeser keseluruhan plot dengan menjadikan Jarrod Sands sebagai main villain. Tim di balik layar dengan gegas mendorong Sands menjadi penjahat di lima episode terakhir. Perubahan cerita ini seakan terjadi dengan spontan, yang berimbas kepada ekspresi ‘loh, kok jadi gini’ oleh para penonton.

Begitu pula dengan karakter Piper Baird (Georgina Haig). Dengan kemunculannya yang hanya beberapa kali, langsung sukses menjadikan Piper sebagai main love interest dari Brian. Seakan entah muncul dari mana, dia pula yang mengubah misi utama Brian. Memang, dia memegang kunci penting, namun perubahan dari karakter sampingan hingga menjadi main interest sungguh terasa dipaksakan.

Okay, mari berpikir secara positif. Mungkin saja pergeseran cerita itu dimaksudkan agar Morra dapat ‘hidup’ lebih lama di serial Limitless. Mungkin pula tim penulis akan mengembalikan posisi Morra di season 2 dengan master plan yang benar-benar baru. Tentu cerita akan lebih menarik ketimbang ‘mematikan’ Morra di season perdana. Jujur saja, kehadiran dari Bradley Cooper adalah momen paling ditunggu para fans Limitless. Kematian prematur karakter tersebut juga pasti tak diinginkan, bukan?

Di sisi lain, beberapa karakter menarik pun terkesan disepelekan oleh Limitless, padahal mereka menyimpan potensi sebagai fan favourite. Contoh gampangnya adalah anggota keluarga Brian. Dari sekian banyak, hanya sang ayah, Dennis Finch (Ron Rifkin) saja yang bisa di-develop dengan (sedikit lebih) baik dari yang lainnya. Padahal ada satu karakter menarik yang cukup membuat pria meneteskan air liur, yaitu Rachel Finch (Megan Guinan). Sayang sekali wajah manisnya tak sanggup membawa dampak major pada keseluruhan cerita.

Saya juga masih ingat dengan sang agen FBI, Boyle, yang tak sengaja menemukan pil NZT dan ia memutuskan untuk menyimpannya. Padahal kita tahu, perbuatan Boyle tersebut melanggar aturan FBI. Dalam salah satu episode background keluarganya yang kurang beruntung pun diperlihatkan. Saya sempat mengira,  inilah saatnya Boyle menjadi badass atau pemberontak untuk satu waktu. Namun sayang plot lagi-lagi terkesan dilupakan.

mike ike

Di luar Brian dan Rebecca, karakter pendukung lain cukup baik performanya. Sebut saja Naz (Mary Elizabeth Mastrantonio), Boyle (Hill Harper), dan Mike ‘n Ike (Michael James Shaw & Tom Degnan). Mereka dengan konsisten memberi warna dalam setiap kemunculannya. Saya suka dengan perkembangan Mike & Ike, dari awalny seperti robot, kini mereka menjadi dua karakter yang paling menarik. Bahkan, cleaning service FBI yang bernama Stavros juga beberapa kali punya momen menarik tersendiri.

Kesimpulan

Secara keseluruhan Limitless adalah salah satu debutan dengan premis yang menarik. Karakter yang karismatik, cerita sains fiksi yang jauh dari kata membosankan, grafis unik, dan banyak sekali humor bertebaran dimana-mana, menjadikan serial ini patut diacungi jempol. Memang tidak sempurna, utamanya karena perubahan plot di akhir-akhir episode. Surprisingly, meski dari awal hingga akhir pil NZT memegang peranan penting, Limitless tidak menjadi ‘candu’ dengan NZT. Tetap menarik melihat tingkah polah Brian dengan atau tanpa NZT.

Sayangnya hingga recap ini turun, belum ada kepastian apakah Limitless akan berlanjut ke season 2…

Skor Akhir: 8/10

 

One thought on “LIMITLESS Season 1: Serial Sci-Fi Debutan Yang Wajib Ditonton

Tinggalkan Balasan